PON 2032 dan Kesempatan Banten Menemukan Identitas Barunya
Setiap daerah punya momen di mana ia bisa memilih untuk tetap menjadi apa yang sudah dikenal orang, atau berani membangun sesuatu yang baru. Banten kini berdiri di momen itu. Dan pertanyaannya bukan lagi apakah kita siap menjadi tuan rumah PON, melainkan apakah kita siap menjadi lebih dari itu.
Kalau saya tanya kepada orang-orang di luar Banten, apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar nama provinsi ini, jawaban yang muncul hampir selalu sama. Pelabuhan Merak. Anyer kalau lagi mau liburan pantai. Serang kalau urusan administrasi. Dan Tangerang, yang separuh identitasnya sudah terlanjur diasosiasikan dengan Jakarta. Jarang ada yang menyebut Banten sebagai destinasi yang sengaja dituju untuk pengalaman tertentu, sesuatu yang ikonik, sesuatu yang hanya bisa ditemukan di sini dan tidak di tempat lain.
Itulah paradoks yang sudah lama didiamkan. Banten memiliki garis pantai yang memanjang indah, kawasan hutan lindung yang masih rimbun, pegunungan yang menawarkan udara berbeda dari gerahnya kota, serta kekayaan budaya Sunda dan Banten yang khas. Tapi semua itu selama ini belum pernah benar-benar dirangkai menjadi sebuah narasi identitas yang kuat, sesuatu yang membuat orang berkata: "Ya, itu Banten. Hanya ada di sana."
PON 2032 adalah kesempatan langka untuk akhirnya merangkai narasi itu. Bukan dengan memaksakan imej yang tidak otentik, melainkan dengan menggali dan membangun di atas apa yang memang sudah ada. Alam yang belum habis dieksploitasi. Komunitas yang bergairah. Dan momentum nasional yang memberi Banten panggung yang belum pernah sebesar ini sebelumnya.
Legacy, Bukan Sekadar Proyek Seremonial
Ada pertanyaan mendasar yang harus dijawab sejak sekarang, jauh sebelum obor PON dinyalakan pada 2032. Pertanyaan itu sederhana tapi jawabannya menentukan segalanya: untuk apa semua ini dibangun?
Jika jawabnya adalah untuk menyukseskan event selama dua minggu, maka Banten akan mengulang pola yang sudah terlalu sering terjadi di berbagai daerah tuan rumah PON sebelumnya. Venue dibangun, event berlangsung, tamu berdatangan, lalu sepi. Yang tertinggal adalah gedung-gedung besar yang tagihan listrik dan perawatannya terus berjalan, sementara aktivitas di dalamnya menghilang bersama kontingen yang pulang ke daerah masing-masing.
Tapi jika jawabannya adalah untuk membangun fondasi ekosistem olahraga dan pariwisata yang akan terus hidup selama satu dekade setelah api obor padam, maka seluruh proses persiapan ini harus dirancang dengan cara yang sama sekali berbeda. Setiap venue yang dibangun harus punya rencana operasional pasca-event. Setiap jalur yang dibuka harus ada komunitas yang merawatnya. Setiap event yang digelar selama PON harus punya kalender kelanjutan yang sudah direncanakan sebelum PON selesai.
Legacy bukan soal seberapa megah venue yang ditinggalkan. Legacy adalah soal seberapa hidup aktivitas yang berlangsung di dalamnya sepuluh tahun setelah event berlalu.
Massaputro Delly TP · massaputrodellytp.comBelajar dari Venue yang Sunyi Setelah Pesta
Kita tidak perlu jauh-jauh mencari contoh. Beberapa venue PON dari penyelenggaraan sebelumnya sudah menjadi pelajaran pahit tentang apa yang terjadi ketika event besar tidak diikuti oleh rencana keberlanjutan yang serius. Gedung olahraga yang dibangun dengan standar tinggi kini lebih sering digunakan untuk acara pernikahan daripada kompetisi. Kolam renang olimpiade yang dulunya jadi kebanggaan kini kekurangan perawatan karena anggaran tidak mencukupi. Velodrome yang megah sepi dari suara roda sepeda.
Pola ini terjadi bukan karena para perancangnya bodoh. Ia terjadi karena ada godaan yang sangat kuat untuk mengutamakan kesiapan event di atas keberlanjutan pasca-event. Dalam tekanan waktu dan anggaran, pertanyaan "bagaimana venue ini akan digunakan setelah PON?" sering kali kalah bersaing dengan pertanyaan "apakah venue ini akan selesai tepat waktu?"
PON 2032 Bisa Mengubah Cara Indonesia Melihat Banten
Ada sesuatu yang terjadi pada sebuah kota atau provinsi ketika seluruh Indonesia menyaksikannya menjadi tuan rumah event nasional berskala besar. Ini bukan sekadar soal liputan media selama dua minggu. Ini soal pergeseran persepsi yang bisa berlangsung jauh lebih lama jika dikelola dengan baik.
Ketika Kalimantan Timur dipilih sebagai lokasi ibu kota baru, cara orang melihat Balikpapan dan Samarinda berubah dalam waktu relatif singkat. Investasi mengalir, wisatawan penasaran berdatangan, dan nama kota-kota itu tiba-tiba hadir di percakapan yang sebelumnya tidak pernah menyertakan mereka. PON punya potensi efek serupa, tapi hanya jika Banten mampu mempresentasikan dirinya bukan sekadar sebagai panitia yang kompeten, melainkan sebagai daerah yang punya sesuatu yang benar-benar menarik untuk ditawarkan.
Selama PON berlangsung, jutaan pasang mata dari seluruh Indonesia akan tertuju ke Banten. Atlet dari 38 provinsi dan rombongan pendampingnya akan hadir. Jurnalis dan kameraman akan meliput tidak hanya pertandingan, tapi juga suasana kota, kuliner lokal, tempat wisata, dan kehidupan sehari-hari masyarakat. Itu adalah eksposur organik yang nilainya jauh melampaui anggaran promosi wisata mana pun. Pertanyaannya: apakah Banten akan punya cerita yang layak untuk diliput dan disebarluaskan?
Membangun Kebanggaan Baru Lewat Olahraga dan Pariwisata
Kebanggaan daerah bukan sesuatu yang bisa dipaksakan dengan slogan atau kampanye media sosial. Ia tumbuh dari pencapaian nyata, dari momen di mana warga merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri. Dan olahraga adalah salah satu media paling kuat untuk menciptakan momen-momen itu.
Ketika atlet Banten berdiri di podium PON di hadapan seluruh Indonesia, ada sesuatu yang akan terasa berbeda bagi warga yang menyaksikannya dari layar televisi maupun langsung dari tribun. Bukan hanya kebanggaan pada atletnya, tapi kebanggaan pada tanah yang melahirkan dan menampung mereka. Itu adalah modal psikologis yang, jika diperkuat dengan pembangunan ekosistem olahraga yang nyata, bisa mengubah cara warga Banten sendiri memandang potensi daerahnya.
Dan di sinilah sport tourism memainkan peran yang jauh lebih dalam dari sekadar ekonomi. Ketika masyarakat lokal melihat bahwa alam mereka, jalur hutan di Tahura, pantai mereka di Anyer dan Carita, gunung mereka di Citorek, diminati oleh orang dari luar daerah, ada rasa memiliki yang menguat. Ada dorongan untuk menjaga, merawat, dan mengembangkan apa yang selama ini dianggap biasa.
Destinasi yang Menunggu untuk Dirangkai
Salah satu kekuatan terbesar Banten dalam konteks sport tourism adalah keragaman karakteristik alamnya dalam satu provinsi yang tidak terlalu luas. Dari pantai berpasir putih hingga perbukitan berhutan lebat, dari sungai berarus untuk arung jeram hingga jalur pegunungan untuk trekking dan trail run. Ini adalah kombinasi yang tidak dimiliki oleh banyak provinsi lain.
Yang paling menarik adalah bagaimana destinasi-destinasi ini dapat saling terhubung dalam sebuah rute wisata aktif yang terintegrasi. Seorang wisatawan bisa memulai perjalanan dengan snorkeling atau surfing di Tanjung Lesung, melanjutkan dengan trail run di Tahura, lalu mengakhiri weekend dengan trekking ke puncak Gunung Luhur menyaksikan negeri di atas awan. Itinerary seperti itu tidak hanya menarik dari sisi pengalaman, ia juga memperpanjang durasi kunjungan dan memaksimalkan dampak ekonomi bagi warga lokal di setiap titik persinggahan.
Tahura Banten Trail Taste 2025: Pintu yang Sudah Terbuka
Di antara semua modal yang dimiliki Banten untuk membangun ekosistem sport tourism menuju PON 2032, ada satu yang sifatnya paling konkret dan paling segera bisa dirasakan dampaknya: bukti bahwa event outdoor di kawasan ini sudah pernah terjadi dan berhasil.
Tahura Banten Trail Taste 2025 bukan sekadar catatan di arsip kepanitiaan. Ia adalah proof of concept yang nilainya jauh melampaui angka peserta atau pendapatan tiket. Ia membuktikan bahwa medan ada, rute bisa didesain, logistik bisa dikelola, dan yang paling penting, ada pasar yang mau datang. Ada pelari dari luar Banten yang memutuskan bahwa event ini layak untuk dimasukkan ke dalam kalender lomba mereka. Itu adalah validasi pasar yang tidak bisa dibeli dengan anggaran promosi mana pun.
Yang menjadi kunci sekarang adalah bagaimana memastikan bahwa Trail Taste 2025 bukan hanya menjadi sejarah yang menyenangkan untuk dikenang, tapi menjadi bab pertama dari sebuah cerita panjang yang terus ditulis setiap tahun menuju dan melampaui PON 2032. Regularitas adalah segalanya dalam membangun reputasi event. Satu kali bisa jadi kebetulan. Dua kali mulai jadi pola. Tiga kali dan seterusnya, itu sudah menjadi tradisi. Dan tradisi adalah fondasi dari ekosistem.
Mimpi Menjadikan Banten Rumah Besar Sport Tourism Indonesia
Saya ingin menutup bagian ini dengan sebuah gambaran. Bayangkan tahun 2035, tiga tahun setelah PON 2032 berakhir. Di Tahura Banten, setiap bulan ada satu event outdoor yang terdaftar di kalender nasional. Jalur trail run-nya sudah mendapat sertifikasi ITRA dan masuk dalam peta kompetisi internasional. Di Tanjung Lesung, ada triathlon tahunan yang pesertanya datang dari Singapura, Malaysia, dan Australia. Di Gunung Luhur Citorek, ada jalur hiking yang sudah punya standar pelayanan dan guide bersertifikat.
UMKM di sekitar setiap destinasi itu sudah tidak lagi bergantung pada musim lebaran sebagai satu-satunya puncak pendapatan. Mereka punya kalender wisatawan yang datang setiap bulan, membawa kebutuhan yang berbeda-beda: kopi untuk pelari, tempat istirahat untuk pesepeda, makanan lokal untuk pendaki. Anak-anak muda Banten yang dulu harus merantau ke Jakarta untuk mencari penghidupan kini punya pilihan baru: menjadi bagian dari industri sport tourism yang tumbuh di tanah sendiri.
Gambaran itu bukan utopia. Ia adalah skenario realistis yang bisa terwujud jika keputusan yang diambil hari ini, dalam enam tahun persiapan menuju PON 2032 ini, memang diarahkan ke sana dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya oleh pemerintah, tapi oleh semua pihak yang peduli pada Banten.
Banten tidak kekurangan alam. Tidak kekurangan komunitas. Tidak kekurangan semangat. Yang dibutuhkan adalah keputusan kolektif bahwa PON 2032 bukan titik akhir dari sebuah persiapan, melainkan titik awal dari sebuah identitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar