Menuju Jagabaya Cibaliung: Gagasan Pecalang Versi Tanah Sunda untuk Desa Budaya
Pada awal Februari 2026, Cibaliung berhenti menjadi sekadar nama di peta. Desa kecil di ujung selatan Pandeglang itu resmi meraih Apresiasi Desa Budaya 2025 dari Kementerian Kebudayaan. Pengakuan itu indah, tapi ia juga menuntut konsekuensi: ekosistem budaya yang hidup membutuhkan perlindungan yang setara dengan nilainya.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyebut lima nama dalam pengumuman Apresiasi Desa Budaya 2025, dan satu di antaranya datang dari ujung selatan Pandeglang: Desa Cibaliung. Ia berdiri sejajar dengan desa-desa dari NTT, Aceh, Kalimantan Timur, dan Jambi, dipilih dari 150 desa yang diseleksi secara nasional. Dewan juri lintas disiplin menilai melalui tiga tahap ketat. Hasilnya jelas: Cibaliung berhasil membangun kebudayaan bukan sebagai pertunjukan, melainkan sebagai sistem kehidupan yang berdampak nyata bagi masyarakatnya. Bagi Kepala Desa Empud Nahrowi, ini bukan sekadar trofi. Ini adalah pengakuan resmi atas apa yang selama ini dijaga dengan sungguh-sungguh oleh warganya.
Tapi prestasi selalu membawa konsekuensi. Jika Cibaliung telah diakui mengelola kebudayaan sebagai sistem hidup, maka sistem itu pun menuntut perlindungan yang setara. Festival, ritual, pengetahuan yang diwariskan lintas generasi: semua itu membutuhkan ekosistem yang aman dan berdaulat secara kultural. Di sinilah gagasan tentang Jagabaya Cibaliung menemukan urgensinya.
Ketika Nira Mengalir, Keamanan Pun Harus Mengalir
Kalau hendak mencari denyut nadi Cibaliung, jangan buka kalender pemerintahan. Buka kalender budaya. Setiap November, ketika hujan mulai lebat di selatan Banten, ratusan warga berduyun ke Kampung Gula Aren Babakan Sabrang untuk Festival Aren Musang. Pada 2025, festival ini mengusung tajuk "Menari Nira: Tuntung Pucuk, Tuntung Akar, Talaga Ngembeng", sebuah frasa yang menyimpan kosmologi mendalam tentang hubungan manusia, pohon, dan hewan.
Rizal Mahfud, pendamping kebudayaan desa sekaligus inisiator festival, menjelaskan bahwa musang bukan hanya satwa liar biasa di Cibaliung. Ia adalah simbol keseimbangan: hanya memakan buah terbaik, lalu menanam kembali bijinya, memastikan pohon aren terus beregenerasi. Dari proses alami itulah manusia belajar bahwa kelestarian tidak lahir dari dominasi, melainkan dari hubungan yang saling menghidupi. Selain Festival Aren Musang, ada pula Pesta Rakyat Cibaliung yang menampilkan debus, rampak bedug, dan angklung buhun sebagai ungkapan syukur atas hasil panen.
Di balik semua kemeriahan itu ada satu hal yang sering luput: keamanan. Festival dengan ratusan pengunjung, instalasi seni, dan rangkaian acara hingga malam membutuhkan dukungan keamanan yang tertata, bukan ronda insidental yang bergantung pada kerelaan beberapa warga. Agenda budaya yang telah menjadi identitas desa ini menuntut ekosistem perlindungan yang setara dengan nilainya.
Keamanan yang tumbuh dari budaya akan selalu lebih kuat daripada keamanan yang ditempelkan di atas budaya.
Massaputro Delly TP · massaputrodellytp.comMengapa Jagabaya, dan Mengapa Sekarang
Dalam khazanah bahasa Indonesia, jagabaya tercatat resmi sebagai "kepala keamanan desa." Ia bukan nama baru, melainkan jabatan yang telah menempel pada tata kelola masyarakat Nusantara sejak lama, sebelum aparat modern hadir. Di berbagai komunitas adat, jagabaya masih hidup: menjaga keamanan saat ritual berlangsung, menjadi seksi keamanan dalam kehidupan sehari-hari, dan memastikan sarana prasarana upacara terpenuhi.
Bali punya pecalang: satuan tugas keamanan tradisional yang dibentuk desa adat, diakui regulasi, dan beroperasi dalam bingkai budaya. Bandung pernah menggagas Gagabaya Perdamaian, satuan petugas keamanan tradisional ala Sunda yang dibentuk ormas-ormas Sunda untuk menjaga ketenteraman kota. Cibaliung membutuhkan padanan itu. Bukan meniru Bali, melainkan menghidupkan kembali apa yang sudah ada dalam DNA kesundaan.
Polda Jawa Barat pernah menawarkan filosofi yang tepat untuk ini: Sauyunan Jaga Lembur, kebersamaan menjaga kampung. Intinya sederhana namun mendalam: masyarakat ditempatkan sebagai subjek keamanan, bukan objek perlindungan. Warga menjadi polisi bagi diri, keluarga, dan lingkungannya sendiri.
Satlinmas sebagai Fondasi, Budaya sebagai Ruh
Indonesia sebenarnya sudah memiliki wadah formal yang menunggu untuk dihidupkan kembali dengan ruh budaya: Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas). Akarnya bisa dilacak hingga 1943, dan sejak 2014 ia resmi menjadi bagian dari sistem pertahanan rakyat berbasis komunitas. Kini Satlinmas bukan sekadar penjaga malam, ia adalah agen kesiapsiagaan yang hadir saat bencana, mengamankan pemilu, dan menjadi garda terdepan dalam aktivitas sosial.
Di Kabupaten Pandeglang sendiri, 3.120 anggota Linmas yang tersebar di 35 kecamatan sudah memiliki Kartu Tanda Anggota, telah menerima bimbingan teknis, dan pernah terlibat dalam evakuasi bencana seperti tsunami. Fondasi ini adalah modal berharga. Yang belum ada adalah sentuhan budaya yang menjadikannya berakar pada identitas lokal.
Dengan kerangka itu, Satlinmas di Cibaliung tidak perlu dibongkar. Ia cukup diberi ruh baru. Struktur formalnya dipertahankan untuk legitimasi hukum, akses pelatihan, dan dukungan anggaran. Tapi nilai yang menggerakkannya, cara ia bekerja, cara ia memandang keamanan, semua itu diwarnai oleh khazanah Sunda. Satpol PP Provinsi Banten dapat menjadi pembina teknis, sementara tokoh adat dan komunitas budaya Cibaliung menjaga agar organisasi ini tidak menjelma menjadi satuan keamanan biasa.
Maka lahirlah yang bisa kita sebut sebagai Satlinmas Berbasis Budaya Jagabaya: struktur formal Satlinmas, bernapaskan Sauyunan Jaga Lembur, silih asah, silih asih, silih asuh, dan kearifan Sunda lainnya.
Desain yang Sudah Bisa Dimulai
Gagasan Jagabaya Cibaliung tidak perlu menunggu regulasi baru yang rumit. Langkah pertama cukup dengan musyawarah desa bersama Satpol PP Banten, Polsek, dan tokoh adat untuk merumuskan AD/ART dan menyusun Peraturan Desa tentang Siskamling Berbasis Budaya. Setelah itu, pelatihan dasar Satlinmas digelar dengan pembekalan nilai Sauyunan Jaga Lembur. Uji coba dimulai dari satu dusun, dievaluasi, lalu diperluas ke seluruh desa.
Untuk identitas, seragam resmi Satlinmas tetap dipakai sesuai ketentuan Kemendagri, tetapi dilengkapi atribut Sunda seperti totopong atau iket, sebagaimana pangsi dan iket yang sudah lama menjadi lambang jajaka Priangan. Anggota Jagabaya dikukuhkan melalui SK Kepala Desa sebagai Satlinmas, sehingga memiliki payung hukum formal sekaligus memikul amanat budaya yang tidak ringan. Regulasi yang berlaku bahkan memungkinkan desa mengalokasikan hingga 3 persen dari dana operasionalnya untuk kegiatan Satlinmas.
Desa yang Aman adalah Desa yang Berdaulat
Jagabaya Cibaliung bukan tentang menambah organisasi di atas kertas. Ia adalah cara desa ini menegaskan kesundaannya dalam tata kelola: bahwa menjaga kampung adalah bagian dari menjaga budaya, dan menjaga budaya adalah bagian dari menjaga kehidupan.
Pengakuan sebagai Desa Budaya 2025 bukan garis akhir, melainkan titik awal. Jika Cibaliung telah diakui mengelola kebudayaan sebagai sistem hidup, maka keamanan pun tidak boleh berdiri di luar sistem itu. Ia harus menjadi napas yang mengalir di dalamnya, seperti nira yang turun dari pohon aren: tanpa henti, tanpa perlu dipaksa.
Nira yang mengalir dari pohon aren tidak pernah memaksa. Ia hanya butuh jalan yang terbuka dan tangan yang merawat. Begitu pula keamanan yang lahir dari budaya: ia akan mengalir sendiri, asalkan sistemnya dibangun dengan sungguh-sungguh.
- Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. (7 Januari 2026). "Ini dia 5 desa terbaik peraih penghargaan Desa Budaya 2025." metrotvnews.com
- Susanti, R. (9 Januari 2026). "Mengenal 5 Desa Budaya 2025, ada Aceh hingga Banten." regional.kompas.com
- Kabar Banten. (11 Januari 2026). "Desa Cibaliung Kabupaten Pandeglang Banten raih lima besar Apresiasi Desa Budaya 2025 dari Kemenbud RI." kabarbanten.pikiran-rakyat.com
- Satelit News. (10 Januari 2026). "Desa Cibaliung masuk lima besar Apresiasi Desa Budaya 2025." satelitnews.com
- RRI. (8 November 2025). "Festival Aren Musang, upaya kembalikan ekologis dan kultural masyarakat Cibaliung." rri.co.id
- Tribun Banten. (7 November 2025). "Festival Aren Musang 2025 di Cibaliung: Tarian nira yang satukan tubuh, alam, dan ingatan." banten.tribunnews.com
- Bantentv. (23 November 2025). "Festival Aren Musang: Pohon kawao jadi simbol pelestarian alam di Cibaliung." bantentv.com
- Good News from Indonesia. (20 November 2025). "Festival Aren Musang bukti kolaborasi kebudayaan dan pesan ekologis." goodnewsfromindonesia.id
- TVRI Jakarta News. (23 November 2025). "Bupati Dewi: Pelestarian alam sangat penting untuk kelangsungan ekosistem." tvrijakartanews.com
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (n.d.). "Jagabaya." Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Daring. kbbi.co.id
- ANTARA News Jawa Barat. (8 Agustus 2026). "Ormas bentuk 'Gagabaya Perdamaian' pasca-bentrok SMAK Dago." jabar.antaranews.com
- Walisongo Repository. (n.d.). "Dalam ritual Ngasa orang Jalawastu terdapat struktur dan peran Jagabaya." eprints.walisongo.ac.id
- Journal Literasi Sains. (n.d.). "Komunitas Jagabaya dan keamanan objek wisata." journal.literasisains.id
- Tribun Jabar. (8 Maret 2026). "Kapolda Jabar luncurkan Sauyunan Jaga Lembur: Perkuat keamanan lingkungan berbasis budaya Sunda." jabar.tribunnews.com
- Tribratanews Jabar. (12 Januari 2026). "Kapolda Jabar terima silaturahmi Tim detikcom, bahas keamanan dan program 'Sauyunan Jaga Lembur'." tribratanews.jabar.polri.go.id
- Tribun Jabar. (19 Juni 2026). "Sauyunan Jaga Lembur: Kapolda Jabar gandeng komunitas ojol jadi mitra strategis kamtibmas." jabar.tribunnews.com
- Kompas.com. (5 Februari 2014). "Ridwan Kamil bikin 'Pecalang' versi Sunda." lipsus.kompas.com
- Kompas.com. (24 Desember 2014). "Jaga Natal dan Tahun Baru damai, Ridwan Kamil berdayakan LSM dan ormas." regional.kompas.com
- ANTARA News. (24 Desember 2014). "Ormas Bandung deklarasikan 'Jaga Lembur'." antaranews.com
- ANTARA News Banten. (16 Agustus 2026). "3120 Linmas binaan Satpol PP Pandeglang diberi KTA." banten.antaranews.com
- BantenNews.co.id. (29 Agustus 2026). "Gubernur Banten dorong Satlinmas lebih aktif lindungi warga." bantennews.co.id
- Satpol PP Provinsi Banten. (8 Juni 2022). "Satpol PP Provinsi Banten melaksanakan kunjungan lapangan terkait Aplikasi Sim Linmas." satpolpp.bantenprov.go.id
- Satpol PP Provinsi Banten. (19 Mei 2025). "Rangkaian kegiatan HUT Satpol PP, Damkar dan Satlinmas tingkat Provinsi Banten tahun 2025." satpolpp.bantenprov.go.id
- Intel Media News. (28 Oktober 2025). "Pembinaan Satlinmas dalam pelaksanaan siskamling pada penanggulangan bencana dan gangguan trantibum." intelmedianews.com
- Bahrinews. (5 November 2025). "Satlinmas Banten dorong penguatan kesiapsiagaan bencana di Kecamatan Pulo Merak." bahrinews.id
- RRI. (11 September 2026). "Sipandu Beradat perluas peran pecalang jaga keamanan desa." rri.co.id
- Nusa Bali. (8 Maret 2026). "Sipandu Beradat perkuat sinergi polisi dan pecalang jaga keamanan Bali." nusabali.com
- Bali Post. (7 Maret 2026). "Ribuan pecalang amankan Nyepi Caka 1948, Gubernur Koster tekankan peran strategis keamanan berbasis desa adat." balipost.com
- Pemerintah Provinsi Bali. (19 Mei 2025). "13 ribu pecalang se-Bali deklarasi tolak preman berkedok ormas." baliprov.go.id
- Dinas Pemajuan Masyarakat Adat Provinsi Bali. (10 Juni 2026). "Kadis PMA Bali sosialisasikan Pergub Nomor 58 Tahun 2025 tentang Sipandu Beradat di Desa Adat Ubung." dpma.baliprov.go.id
- Peraturan Gubernur Bali Nomor 58 Tahun 2025 tentang Perubahan atas Peraturan Gubernur Bali Nomor 26 Tahun 2020 mengenai Sistem Pengamanan Lingkungan Terpadu Berbasis Desa Adat (Sipandu Beradat).
- Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 26 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ketertiban Umum dan Ketenteraman Masyarakat serta Perlindungan Masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar