Menemukan Hakikat Diri di Banten Lama: Renungan Sholat Jumat dan Ziarah ke Makam Sultan Maulana Hasanuddin

Menemukan Hakikat Diri di Banten Lama: Renungan Sholat Jumat dan Ziarah ke Makam Sultan Maulana Hasanuddin

Wisata Spiritual  ·  Refleksi Sejarah Banten

Menemukan Hakikat Diri di Banten Lama: Renungan Sholat Jumat dan Ziarah ke Makam Sultan Maulana Hasanuddin

Ada kalanya ritme kehidupan perkotaan yang begitu cepat memanggil jiwa kita untuk sejenak melangkah mundur, menepi dari hiruk pikuk rutinitas harian, serta mencari muara ketenangan batin. Kerinduan untuk memuhasabah diri kerap menuntun langkah menuju tempat tempat yang sarat dengan sejarah dan kedalaman spiritual. Tepat pada Jumat, 21 Maret 2025, perjalan muara refleksi itu menuntun saya menuju kawasan Banten Lama, tempat di mana jejak keagungan Kesultanan Banten masih berbisik lembut menyapa setiap peziarah yang datang dengan keheningan hati.

Kekokohan Bangunan Ratusan Tahun dan Keheningan Sholat Jumat

Di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi simbol keunggulan peradaban Islam di Tanah Sunda, yaitu Masjid Agung Banten. Memasuki pelataran masjid berarsitektur megah ini pada pertengahan hari di tanggal 21 Maret 2025 membawa impresi tersendiri. Bangunan yang didirikan sejak abad keenam belas pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin ini tetap berdiri dengan begitu kokoh dan anggun.

Meskipun telah melewati garis perjalanan ratusan tahun, mengalami pergantian era kolonial hingga kemerdekaan, serta menjalani rangkaian rehabilitasi dan revitalisasi pemugaran kawasan, jiwa dan kekokohan fisiknya sama sekali tidak pudar. Atap bertumpuk lima yang melambangkan rukun Islam, tiang tiang kayu penyangga yang tegap, serta Menara Banten bergaya unik ciptaan arsitek Raden Sepat menghadirkan atmosfer religius yang amat kental. Melaksanakan ibadah Sholat Jumat di dalam bangunan sakral ini memberikan pengalaman spiritual yang sukar dilukiskan dengan kata kata.

Saat lafaz azan bergema memantul di dinding dinding batu tua pada siang itu, hati perlahan lahan melunak. Bersujud bersama ratusan jamaah di atas lantai masjid yang sejuk membawa kedamaian yang menghanyutkan. Di tempat inilah para wali, sultan, dan prajurit masa lalu pernah merebahkan dahi mereka menghadap Sang Pencipta. Berada di dalam saf yang sama mengajarkan kita tentang kesederhanaan dan kepasrahan, bahwasanya di hadapan Tuhan seluruh manusia berdiri dalam derajat yang setara.

Kekokohan bangunan tua ini adalah ikhtiar manusia, namun keberkahannya adalah karunia Ilahi. Di balik batu dan kayu yang bertahan ratusan tahun, tersimpan pesan abadi bahwa kepemimpinan yang berlandaskan keimanan akan meninggalkan jejak kebaikan yang tak lapuk oleh waktu.
— Catatan Refleksi Ziarah Banten Lama, 21 Maret 2025

Ziarah ke Makam Sultan Maulana Hasanuddin: Merenungi Keteladanan dan Fana Dunia

Usai menuntaskan Sholat Jumat dan meresapi doa doa khusyuk, langkah kaki bergeser menuju kompleks pemakaman yang terletak berdampingan langsung dengan bangunan utama masjid. Di sanalah bersemayam sosok pendiri Kesultanan Banten, Sultan Maulana Hasanuddin, putra dari Wali Songo Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Duduk bersila di depan pusara pemimpin besar yang pernah membawa Banten mencapai puncak kejayaan perdagangan maritim dan syiar Islam ini menghadirkan ruang muhasabah yang sangat dalam. Sultan Maulana Hasanuddin bukan hanya dikenal sebagai pejuang yang gigih, tetapi juga ulama dan negarawan ulung yang meletakkan tatanan sosial berbasis keadilan. Di tempat peziarahan yang tenang ini, hembusan angin seolah berbisik mengingatkan kita akan hakikat kehidupan manusia yang fana.

Sebesar apa pun kekuasaan yang pernah digenggam, setinggi apa pun jabatan yang pernah diampu, serta sebanyak apa pun harta yang berhasil dikumpulkan, pada akhirnya setiap insan akan kembali ke tanah dalam balutan kain putih yang sederhana. Aktivitas ziarah kubur di arena sakral ini menjadi obat penawar bagi jiwa yang terlalu sering silau oleh kemewahan keduniaan. Ia menjadi pengingat yang sangat jujur bahwasanya hal terbaik yang akan kita tinggalkan kelak adalah amal kebaikan, karya yang bermanfaat bagi masyarakat, serta jejak keteladanan yang menginspirasi generasi berikutnya.

📋 Nilai Filososi dan Sejarah Kompleks Banten Lama:

  • Masjid Agung Banten: Didirikan sekitar tahun 1556 Masehi oleh Sultan Maulana Hasanuddin, menunjukkan keagungan arsitektur akulturasi Jawa, Cina, dan Eropa.
  • Lokasi Geografis Sakral: Berada di Kelurahan Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, berdampingan langsung antara pusat peribadatan dan pemakaman raja.
  • Pusat Peradaban Maritim: Menjadi simbol kejayaan Banten di masa lalu sebagai pelabuhan internasional dan pusat penyebaran Islam terdepan.
  • Lahan Muhasabah Jiwa: Destinasi wisata religi yang menyajikan perpaduan antara edukasi sejarah, penghormatan leluhur, dan penyucian niat hidup.

Kekekalan Jiwa dan Reorientasi Tujuan Hidup

Perjalanan spiritual ke Banten Lama pada 21 Maret 2025 tersebut mengajarkan kita untuk memadukan nilai historis dengan reorientasi kehidupan pribadi. Menatap sisa sisa kejayaan benteng Surosowan dan keteguhan Masjid Agung Banten membuat kita menyadari bahwa peradaban fisik dapat rapuh diterjang waktu, tetapi nilai nilai spiritual dan perjuangan moral akan tetap abadi.

Momentum berada di Banten Lama ini mengundang kita untuk berhenti sejenak, merapikan kembali niat, serta menyucikan hati dari penyakit prasangka dan kesombongan. Muhasabah diri di sudut masjid kuno ini memberikan energi baru untuk melangkah kembali ke tengah masyarakat dengan semangat pelayanan yang lebih ikhlas, kepemimpinan yang lebih bijaksana, serta kesadaran penuh bahwasanya hidup di dunia adalah ladang untuk menanam kebaikan sebelum berpulang ke muara abadi.

Kesimpulan

Sholat Jumat di Masjid Agung Banten Lama dan ziarah ke makam Sultan Maulana Hasanuddin di Kasemen pada 21 Maret 2025 merupakan perjalanan spiritual yang melampaui sekat waktu. Di balik dinding batu kuno yang tetap kokoh berdiri, kita diajak untuk menemukan kembali hakikat diri, menyadari kefanaan dunia, serta memetik keteladanan luhur dari para pendiri peradaban Banten demi menata masa depan yang lebih bermakna.

Mari Menyepi dan Merenung Sejenak

Kapan terakhir kali Anda mengambil jeda dari kesibukan dunia untuk memuhasabah perjalanan hidup Anda? Mari sempatkan waktu untuk melangkah ke tempat tempat bersejarah penuh keberkahan seperti Banten Lama. Bagikan pengalaman spiritual atau pandangan Anda di kolom komentar di bawah ini, serta bagikan tulisan ini kepada kerabat dekat agar kita saling mengingatkan dalam kebaikan dan kerendahan hati.

Daftar Pustaka

  • Ambary, Hasan Muarif. (1998). Menemukan Peradaban: Arkeologi dan Islam di Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.
  • Djajadiningrat, Hoesein. (1983). Tinjauan Kritis Sejarah Banten: Sumbangan Bagi Pengenalan Sifat-Sifat Penulisan Sejarah Jawa. Jakarta: Djambatan.
  • Michrob, Halwany, & Chudari, A. Mudjahid. (1993). Catatan Sejarah Banten. Serang: Saudara.
Artikel Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar