Menwa Bukan Relik Orde Baru.
Lalu Mengapa Kita Masih Salah Membacanya?
Selama puluhan tahun kita menaruh Menwa di rak yang salah. Sudah waktunya kita memindahkannya ke tempat yang seharusnya.
Saya ingin mulai dengan sebuah pengakuan. Selama bertahun-tahun saya hidup di dalam dan bersama Resimen Mahasiswa, saya menyimpan dua perasaan yang sulit didamaikan: kagum sekaligus frustrasi. Kagum karena saya menyaksikan langsung apa yang bisa dihasilkan oleh pembinaan Menwa yang sungguh-sungguh. Dan frustrasi karena saya juga menyaksikan betapa jauh jarak antara potensi itu dengan kenyataan yang berlangsung di lapangan.
Banyak orang memilih untuk tidak membicarakan Menwa sama sekali. Dianggap sudah selesai. Tidak relevan. Organisasi yang terlalu erat dikaitkan dengan masa lalu yang ingin dilupakan. Dan saya mengerti dari mana pandangan itu berasal.
Tapi saya tidak setuju.
Ada yang salah dari cara kita membaca cerita ini. Bukan Menwa-nya yang ketinggalan zaman. Yang tertinggal adalah cara kita memahaminya.
Coba sejenak letakkan prasangka dan tanya dengan jujur: apa yang sesungguhnya dibutuhkan Indonesia hari ini? Kita membutuhkan generasi muda yang tidak sekadar cerdas secara akademis, tetapi juga kuat secara karakter. Kita membutuhkan pemimpin yang lahir dari proses yang benar-benar menantang, yang pernah merasakan apa artinya memikul tanggung jawab atas orang lain, yang tahu perbedaan antara memimpin karena terpaksa dan memimpin karena pilihan yang disadari penuh.
Kita membutuhkan anak muda yang rasa cintanya pada bangsa ini bukan slogan di media sosial, melainkan nilai yang sudah teruji dalam pengalaman nyata.
Menwa, pada terbaiknya, adalah ruang untuk membentuk semua itu. Persoalannya bukan pada nilai-nilainya. Persoalannya ada pada sistem yang belum pernah sungguh-sungguh memutuskan apakah mau serius mendukungnya.
Pengabdian, disiplin, kepemimpinan yang lahir dari pengalaman bukan dari teori, ketangguhan dalam kondisi yang tidak nyaman, semuanya justru semakin relevan di era yang semakin kompetitif dan penuh ketidakpastian ini. Yang belum optimal adalah sistemnya: regulasi yang terlalu rapuh, koordinasi antar kementerian yang terlalu longgar untuk menghasilkan standar yang konsisten, dan narasi tentang Menwa yang terlalu lama berhenti pada imaji seragam dan baris-berbaris tanpa pernah bergerak ke substansi yang lebih dalam.
Saya telah berbicara dengan banyak alumni Menwa dari berbagai angkatan dan berbagai penjuru Indonesia. Mereka bekerja di TNI, di birokrasi pemerintahan daerah, di dunia usaha, di organisasi masyarakat sipil. Dan hampir semuanya mengatakan hal yang sama, dengan cara yang berbeda-beda: masa-masa di Menwa adalah salah satu periode paling formatif dalam perjalanan hidup mereka.
Itu bukan klaim yang dibuat-buat. Itu kesaksian yang berulang dan konsisten, dari orang-orang yang tidak punya kepentingan untuk berbohong.
Tapi di saat yang sama, banyak satuan Menwa yang hari ini berjalan dengan standar yang jauh di bawah yang seharusnya. Banyak mahasiswa yang bergabung dengan harapan yang kemudian tidak terpenuhi. Banyak pimpinan kampus yang sudah lama tidak melihat satuan Menwa di kampusnya sebagai aset, melainkan sebagai urusan administratif yang harus diurus seadanya.
Di sanalah letak masalah sesungguhnya.
Indonesia sedang berdiri di depan jendela peluang yang tidak akan terbuka selamanya. Bonus demografi yang sedang kita nikmati adalah satu-satunya dalam sejarah bangsa ini. Puluhan juta anak muda yang hari ini duduk di bangku perguruan tinggi adalah generasi yang akan memegang kendali Indonesia pada dekade 2040-an dan 2050-an, tepat ketika cita-cita Indonesia Emas 2045 seharusnya mencapai puncaknya.
Kualitas kepemimpinan mereka akan menentukan apakah cita-cita itu menjadi kenyataan atau sekadar angka di atas kertas.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Menwa relevan. Pertanyaan yang lebih tepat adalah: apakah kita cukup serius untuk memanfaatkan potensinya sebelum jendela itu tertutup?
Saya sedang bekerja keras untuk menjawab pertanyaan itu secara tuntas. Dengan argumen yang bisa diuji, dengan kerangka yang cukup konkret untuk ditindaklanjuti oleh siapapun yang peduli dan ingin berbuat sesuatu. Bukan sekadar seruan semangat, bukan juga nostalgia terhadap masa lalu yang tidak bisa diputar ulang.
Ada banyak hal yang perlu diuraikan lebih jauh. Tentang bagaimana sistem pembinaan Menwa perlu diperbarui dari akar. Tentang apa yang bisa kita pelajari dari model-model di Malaysia, India, Korea Selatan, dan negara-negara lain yang sudah lebih serius mengelola komponen mahasiswa dalam sistem pertahanan dan pembentukan kepemimpinan mereka. Tentang bagaimana paradigma Kampus Berdampak yang sedang bergulir justru membuka peluang besar bagi Menwa untuk menemukan posisi yang lebih strategis dari sebelumnya.
Dan tentang mengapa semua itu perlu dimulai sekarang, bukan nanti.
Menwa bukan cerita yang sudah selesai.
Ia adalah cerita yang belum pernah benar-benar dimulai dengan serius. Dan kita, generasi yang hidup di persimpangan antara janji besar Indonesia Emas 2045 dan kenyataan bahwa generasi pemimpin berikutnya sedang dibentuk hari ini, memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa cerita itu akhirnya mendapatkan kelanjutan yang layak.
Tulisan ini baru permulaan. Masih banyak yang perlu diperdebatkan dan disimpulkan bersama. Tapi satu hal sudah saya yakini sejak lama: kita telah terlalu lama salah membaca Menwa. Sudah waktunya kita membacanya dengan benar.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar