Menwa Perlu Membentuk Komando Siaga Operasi Bencana di Setiap Tingkatan

Menwa Perlu Membentuk Komando Siaga Operasi Bencana di Setiap Tingkatan

Resimen Mahasiswa  ·  Penanggulangan Bencana  ·  Sistem Komando

Menwa Perlu Membentuk Komando Siaga Operasi Bencana di Setiap Tingkatan

Eksistensi dan rekam jejak pengabdian Resimen Mahasiswa (Menwa) Indonesia dalam setiap aksi kemanusiaan dan penanggulangan bencana di berbagai penjuru tanah air senantiasa menunjukkan dedikasi yang tinggi. Kendati demikian, dalam pelaksanaan operasional di lapangan, masih sering ditemukan berbagai kendala mendasar yang berkaitan erat dengan koordinasi sektoral serta kejelasan sistem komando. Sering kali, ketika terjadi bencana secara tiba-tiba, personel Menwa yang diterjunkan ke lokasi mengalami kebingungan mengenai mekanisme komando, harus berkoordinasi dengan siapa, serta langkah taktis apa yang harus segera dieksekusi. Artikel ini mengulas secara komprehensif urgensi penataan sistem komando dan pembentukan satuan siaga khusus berdasarkan hasil webinar nasional BNPB dan Konas Menwa Indonesia.

Evaluasi Lapangan dan Urgensi Komando Terpadu

Permasalahan mendasar mengenai sinkronisasi komando di lapangan tersebut disoroti secara tajam oleh Kepala Staf Komando Nasional (Kaskonas) Menwa Indonesia, M. Arwani Deni. Saat membuka secara resmi acara webinar nasional bertajuk "Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB)" pada Jumat, 18 September 2020, ia menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pola pengerahan pasukan di zona bencana.

"Menwa dalam penanggulangan bencana hingga kini sudah baik, tapi masih ditemukan kendala tatkala di lapangan, harus berkoordinasi ke siapa dan berbuat apa," ujar M. Arwani Deni di hadapan ratusan peserta dari berbagai pengurus wilayah di seluruh Indonesia.

Menyikapi kompleksitas tantangan di lapangan tersebut, diperlukan langkah strategis berupa pembentukan struktur komando operasional yang permanen dan tersentralisasi. Konas Menwa Indonesia menginisiasi pembentukan unit khusus yang diberi nama Komando Siaga Operasi Penanggulangan Bencana (KOSIOPS PB) Menwa di setiap jenjang hierarki komando. Struktur ini dirancang secara berjenjang, dimulai dari tingkat Komando Nasional (KONAS), Komando Resimen Mahasiswa (KOMENWA) di tingkat provinsi, Sub Komenwa pada tingkat kabupaten/kota, hingga tingkat Satuan yang berpangkalan di perguruan tinggi.

Poin Penting Pembelajaran Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB)

Bertindak sebagai pemateri utama dalam webinar tersebut adalah Iwan Hasanudin, pejabat fungsional dari Staf Direktorat Sumber Daya Darurat Deputi 3 Bidang Penanganan Darurat BNPB. Dalam pemaparannya, ia memaparkan lima tujuan utama pembelajaran Sistem Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB) yang wajib dipahami oleh organisasi relawan profesional, termasuk Resimen Mahasiswa:

  • Identifikasi Fungsi Utama SKPDB: Mahir mengidentifikasi fungsi utama SKPDB dalam kerangka manajemen darurat bencana baik di tingkat nasional maupun internasional.
  • Komunikasi dan Koordinasi: Mahir mengidentifikasi, berkomunikasi, serta berkoordinasi secara efektif dengan para penanggung jawab, pejabat, dan petugas terkait SKPDB guna keperluan pendampingan dan perkuatan penanganan darurat.
  • Struktur Komando dan Tugas: Mahir menjelaskan secara rinci tugas, tanggung jawab, serta fungsi Komandan, para Staf Komando, Suryando, dan Surlakdo dalam sistem komando darurat.
  • Aktivasi Posko: Mahir menjelaskan fungsi operasional serta mampu mengaktifkan Pos Komando (Posko) Utama dan Pos Komando Lapangan secara cepat dan tepat.
  • Keterlibatan Proaktif: Mahir dan terlibat secara proaktif dalam pelaksanaan SKPDB baik pada level teknis, manajerial, maupun tingkat komando.

Siklus Manajemen Bencana dan Posisi Strategis Resimen Mahasiswa

Dalam pemaparannya, Iwan Hasanudin juga menekankan pentingnya pemahaman menyeluruh terhadap Siklus Manajemen Penanggulangan Bencana yang terbagi ke dalam dua fase utama. Fase pertama adalah tahap sebelum bencana, yang mencakup kegiatan pencegahan (*mitigasi*) dan kesiapsiagaan. Sedangkan fase kedua adalah saat terjadinya bencana, yang meliputi penanganan darurat bencana serta tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.

Dalam siklus tersebut, terdapat lima pemangku kepentingan (*pentahelix*) yang terlibat aktif, yakni Pemerintah sebagai regulator, akademisi atau pakar sebagai penyedia konsep dan inovasi, dunia usaha sebagai pendorong ekonomi, media massa sebagai penguat informasi, serta masyarakat sebagai akselerator utama di lapangan.

"Konsentrasi utama Resimen Mahasiswa dalam penanggulangan bencana diposisikan secara khusus pada fase darurat bencana, bertindak sebagai elemen siaga, tanggap, dan transisi yang profesional."

Di Indonesia, sebagian besar bencana alam seperti gempa bumi terjadi secara mendadak tanpa didahului oleh tanda-tanda fase pra-bencana yang jelas, sehingga langsung memasuki fase darurat bencana. Pada situasi darurat inilah kehadiran Menwa sangat dibutuhkan untuk masuk ke dalam ring pertama (*ring 1*) bersama BNPB. Mengingat luasnya wilayah geografis Indonesia, BNPB sering kali membutuhkan waktu untuk menjangkau lokasi pusat bencana, sementara BPBD di daerah kerap menghadapi keterbatasan sumber daya. Di saat yang sama, berbagai lembaga non-pemerintah (NGO), unsur swasta, dan masyarakat sering mendirikan posko secara sporadis tanpa koordinasi yang jelas, sehingga menimbulkan ego sektoral. Menwa hadir untuk menjembatani kekosongan komando tersebut sebagai kepanjangan tangan resmi BNPB.

Delapan Kompetensi Dasar Penanggulangan Bencana

Agar kehadiran anggota Menwa di lokasi bencana tidak menjadi beban tambahan bagi posko utama, setiap personel diwajibkan menguasai kompetensi khusus yang terangkum dalam delapan keterampilan dasar penanggulangan bencana, yaitu:

  • Kaji Cepat (Rapid Assessment): Kemampuan melakukan pendataan cepat, menilai dampak kerusakan, dan melaporkan situasi riil secara akurat.
  • Aktivasi Pos Komando: Keterampilan mendirikan dan mengoperasionalkan posko darurat sesuai standar SOP.
  • Data dan Informasi: Manajemen pengumpulan dan penyebaran informasi satu pintu yang valid.
  • Pencarian, Pertolongan, dan Evakuasi (PPE / SAR): Operasi penyelamatan korban jiwa di medan berat.
  • Air Bersih dan Sanitasi: Pengelolaan fasilitas higienitas darurat bagi pengungsi.
  • Kesehatan: Pertolongan medis darurat dan perawatan kesehatan dasar.
  • Sandang dan Pangan: Manajemen distribusi logistik kebutuhan pokok yang adil dan merata.
  • Hunian / Shelter: Penataan tempat tinggal sementara yang layak bagi pengungsi.

Langkah Konkret dan Pembentukan Unit Khusus Permanen

Menegaskan komitmen kelembagaan, B. Sulistyono selaku Komandan Komando Siaga Operasi (Dankosiops) Konas Menwa Indonesia menyatakan bahwa saat ini Konas Menwa tengah memproses penandatanganan nota kesepahaman (*Memorandum of Understanding*) dan perjanjian kerja sama resmi dengan BNPB terkait operasional penanggulangan bencana. Ruang lingkup kerja sama ini difokuskan secara khusus pada masa darurat bencana.

Sebagai tindak lanjut taktis, Dankosiops menginstruksikan agar seluruh jajaran Komando Menwa di daerah segera membentuk unit khusus penanggulangan bencana secara permanen, bukan sekadar satuan tugas insidentil. Pembentukan unit operasional tersebut meliputi:

  • Detasemen Siaga Operasi Penanggulangan Bencana (Densiops PB) di seluruh tingkat Komando Resimen (provinsi);
  • Sub Siaga Operasi Penanggulangan Bencana (Subdensiops PB) di seluruh tingkat Sub Komenwa (kabupaten/kota); serta
  • Kelompok Siaga Operasi Penanggulangan Bencana (Pok Siops PB) di setiap satuan / perguruan tinggi.

Pembentukan unit-unit khusus ini diinstruksikan untuk segera direalisasikan tanpa harus menunggu rampungnya penandatanganan formal perjanjian kerja sama antara Konas Menwa dan BNPB. Setiap anggota yang diaktivasi akan bertindak resmi sebagai kepanjangan tangan BNPB yang beroperasi langsung di Pos Komando Utama maupun Pos Komando Lapangan. Oleh karena itu, kesiapan fisik, mental, dan penguasaan format pelaporan baku sesuai standar BNPB menjadi harga mati yang harus dipersiapkan oleh seluruh kader Menwa di berbagai tingkatan.

Webinar koordinasi yang diselenggarakan oleh Kosiops PB Konas Menwa Indonesia bersama BNPB yang dikhususkan bagi para Kepala Staf Komenwa dari seluruh provinsi ini berlangsung secara interaktif mulai pukul 20.00 WIB hingga tengah malam pukul 23.30 WIB, menandai babak baru profesionalisme Resimen Mahasiswa dalam bidang kemanusiaan.

Kesimpulan

Optimalisasi peran Resimen Mahasiswa dalam penanggulangan bencana melalui pembentukan Komando Siaga Operasi dan penguasaan delapan kompetensi dasar merupakan langkah revolusioner dalam membangun relawan terdidik yang disiplin, terstruktur, dan andal di bawah komando resmi negara.

Bagaimana pandangan Anda mengenai pentingnya standardisasi kompetensi dan integrasi komando relawan mahasiswa dengan badan penanggulangan bencana resmi pemerintah? Sampaikan komentar, pandangan, serta tanggapan konstruktif Anda di kolom di bawah ini, dan bagikan artikel inspiratif ini kepada rekan-rekan Anda!

Massaputro Delly TP  ·  Catatan Birokrasi dan Penegakan Perda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar