Psikologi Sosial & Pandemi Global
Studi Psikologi Corona Global: Menakar Tingkat Optimisme dan Harapan Masyarakat Indonesia di Tengah Pandemi
29 April 2020 · Oleh Massaputro Delly TP
Hari ini saya membaca sebuah tulisan di media daring nasional tertanggal 29 April 2020 yang mengupas topik menarik mengenai Studi Psikologi Corona Global: Indonesia Peringkat Hope Tertinggi. Tulisan tersebut diulas oleh Christianto Wibisono atau yang dikenal luas sebagai Oey Kian Kok, seorang analis bisnis terkemuka di tanah air sekaligus pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia pada tahun 1980. Kajian ini memberikan sudut pandang psikologis yang sangat mencerahkan tentang bagaimana mentalitas masyarakat kita bertahan di tengah guncangan krisis kesehatan global.
Bedah Survei Psikologi Global di Tengah Krisis
Wibisono memaparkan hasil riset opini pemimpin opini dan tokoh berpengaruh dunia yang melibatkan seratus profesor psikologi dari berbagai belahan bumi. Inisiatif riset ini diprakarsai oleh Profesor Doktor Pontus Leander bersama Profesor Doktor Doktor Jocelyn Belanger. Pengumpulan data dilakukan secara daring hingga 25 Maret 2020 dan berhasil menjaring total 59.504 responden global, di mana sebanyak 2.305 responden di antaranya berasal dari Indonesia. Survei opini publik ini dirancang secara khusus untuk memotret realitas sosial yang sesungguhnya di tengah masyarakat, termasuk mengamati indikator perbaikan situasi serta pergerakan grafik penurunan tingkat penularan virus corona.
Hasil temuan survei menunjukkan sebuah potret psikologis yang unik di mana masyarakat Indonesia ternyata memiliki sikap yang cukup optimis realistis, meskipun di saat yang bersamaan juga diliputi oleh rasa waswas atau kecurigaan tertentu akibat dampak masif pandemi korona. Berdasarkan analisis data komparatif, terdapat sisi terang berupa kabar baik sekaligus sisi gelap berupa tantangan berat yang harus dihadapi oleh bangsa kita.
— Christianto Wibisono (Analis Bisnis dan Pendiri PDBI)
Kabar Baik di Balik Angka Optimisme Nasional
Aspek pertama yang menjadi catatan positif dalam studi tersebut adalah posisi Indonesia yang menempati peringkat jauh lebih rendah dalam hal kerentanan terhadap kepercayaan teori konspirasi seputar virus korona. Angka skeptisisme kita terhadap narasi liar jauh tertinggal di bawah Cina, bahkan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan Amerika Serikat. Hal ini membuktikan bahwa sebagian besar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu tidak berdasar, seperti anggapan bahwa virus ini merupakan senjata biologis buatan laboratorium ataupun mitos keliru mengenai jaringan seluler generasi kelima.
Selain itu, tingkat rasa kesendirian atau perasaan terisolasi di Indonesia tercatat jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, Hungaria, Australia, bahkan berada di bawah rata-rata global. Yang paling membanggakan, skor harapan dan kemanjuran kolektif menempatkan kita di jajaran teratas dunia. Hal ini sejalan dengan keyakinan optimis pemerintah bahwa krisis ini dapat segera teratasi dengan baik. Penetrasi informasi yang masif melalui media cetak, portal berita daring, hingga media sosial tanpa henti juga memastikan bahwa pesan pencegahan dari otoritas kesehatan dapat ditangkap secara jelas oleh publik tanpa banyak ambiguitas.
📋 Rangkuman Temuan Positif Psikologi Publik:
- Rendahnya Teori Konspirasi: Masyarakat rasional dalam menyikapi informasi asal-usul pandemi tanpa terpengaruh hoax ekstrem.
- Solidaritas Sosial Tinggi: Perasaan terisolasi atau kesendirian sangat minim berkat kuatnya ikatan kekeluargaan komunal.
- Peringkat Harapan Tertinggi: Skor optimisme dan keyakinan masa depan berada di posisi puncak dunia.
- Dominasi Emosi Positif: Responden Indonesia menunjukkan proporsi emosi optimis yang lebih tinggi dibandingkan negara maju.
Sisi Tantangan dan Realitas Perilaku di Lapangan
Di balik kabar membanggakan tersebut, survei juga mengungkap beberapa catatan buruk yang memerlukan intervensi serius. Skor rata-rata tingkat kecurigaan atau paranoia di Indonesia tercatat berada di posisi kedua tertinggi setelah Turki. Masyarakat kita cenderung memiliki kewaspadaan berlebihan yang kadang berujung pada kecurigaan terhadap pendatang baru. Fenomena penolakan terhadap pemulasaran jenazah korban korona di beberapa daerah serta pengusiran tenaga medis dari tempat tinggal mereka menjadi bukti nyata dari tingginya kecemasan sosial tersebut.
Selain itu, dalam hal kepatuhan mobilitas fisik, Indonesia masih menduduki peringkat teratas dalam frekuensi melakukan kontak tatap muka secara langsung dibandingkan negara-negara besar lainnya. Fakta psikologis dan sosiologis inilah yang menjelaskan mengapa kebijakan pembatasan sosial berskala besar pada masa itu belum berjalan secara maksimal. Aktivitas luring atau pertemuan langsung masih dianggap lebih penting daripada interaksi virtual. Sektor industri padat karya masih banyak yang beroperasi, aktivitas pasar tradisional berjalan seperti biasa, dan tradisi mudik tetap dijalankan oleh sebagian besar warga.
Langkah Strategis Menghadapi Ketidakpastian
Tidak ada satu pun negara di dunia yang benar-benar siap seratus persen ketika menghadapi hantaman pandemi global yang datang secara tiba-tiba. Oleh karena itu, ketahanan kolektif harus terus dipupuk agar badai krisis ini dapat segera berlalu. Sebagaimana ditegaskan oleh pemimpin berbagai belahan dunia, pemulihan ekonomi memang penting, tetapi keselamatan nyawa manusia tetap berada di urutan paling utama.
Masyarakat diimbau untuk senantiasa mematuhi protokol kesehatan dengan disiplin yang tinggi, seperti mencuci tangan secara rutin, mengenakan masker kain atau medis, menjaga jarak aman dalam berinteraksi sosial, serta menghindari kerumunan massal. Di samping itu, penguatan solidaritas gotong royong di lingkungan rukun tetangga masing-masing melalui penyaluran bantuan bagi warga rentan menjadi kunci utama terciptanya ketahanan sosial yang tangguh.
Kesimpulan
Tingginya peringkat harapan yang diraih Indonesia dalam studi psikologi global membuktikan bahwa modal sosial dan mentalitas optimis merupakan kekuatan terbesar bangsa kita. Dengan menyelaraskan semangat positif tersebut ke dalam kedisiplinan perilaku sehari-hari, kita tidak hanya mampu bertahan dari terjangan krisis kesehatan, tetapi juga bangkit menjadi masyarakat yang jauh lebih kuat dan berdaya tahan tinggi.
Daftar Pustaka
- Leander, Pontus., & Belanger, Jocelyn. (2020). Global Corona Psychology Study: Leadership, Hope, and Coping Mechanisms. International Psychological Research Consortium.
- Wibisono, Christianto. (2020). Studi Psikologi Corona Global: Indonesia Peringkat Hope Tertinggi. Artikel Indonews.id edisi 29 April 2020.
- Pusat Data Bisnis Indonesia. (2020). Analisis Dampak Sosial Psikologis Pandemi Global terhadap Perilaku Masyarakat Indonesia. Jakarta: PDBI.
Baca Juga Pilihan
Optimis namun kadang menyepelekan sesuatu, sama halnya dgn bunuh diri. Sebab masih saja kita melihat warga yg sering keluar rumah tanpa tujuan yg jelas dan tanpa menggunakan masker. Kalau seperti ini. Sy malah pesimis.
BalasHapusYaaa, optimis bersyarat, minimal melaksanakan seperti saran di bagian akhir tulisan.
HapusSaya berusaha tetap menjaga diri dan keluarga malah banyakan menghindari berita yang aneh2 seputar corona. Malah bikin parno sendiri padahal bisa jadi itu hoax belaka. optimis pandemi ini segera berakhir.
BalasHapusBetul sekali, semakin menghindar semakin nyaman yaa ...
Hapuskadang banyak berita yg kadang seperti menakut2i , makanya jaarng baca atau denger lagi. lebih baik kita tanam optimisme agar cepat berlalu dan menjaga klg kita dg baik
BalasHapusYa,tetap dengan protokol kesehatan dan penambahan imun, smoga kita selalu diberikan kesehatan. Amin.
Hapus