Ada sebuah pertanyaan yang sejak beberapa hari terakhir terus berputar di kepala saya dan tidak juga menemukan jawaban yang memuaskan. Kalau dulu Indonesia dihukum FIFA semata-mata karena menolak kehadiran Israel, bukan menyerang, bukan menginvasi, melainkan sekadar menolak, lalu mengapa Amerika Serikat yang sudah nyata-nyata melancarkan serangan militer ke Iran bisa tetap nyaman duduk sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026?

Dan pertanyaan itu pun membawa saya ke pertanyaan yang lebih besar lagi. Mengapa FIFA, lembaga yang pernah begitu tegasnya menjatuhkan sanksi kepada Rusia setelah invasi ke Ukraina, kini seolah kehilangan suara ketika pelaku serangan bersenjata adalah negara dengan kekuatan paling besar di dunia?

Ini bukan sekadar retorika. Di baliknya ada sejarah yang nyata, ada ironi yang pahit, dan ada luka yang cukup dalam, setidaknya bagi kita sebagai orang Indonesia yang pernah merasakan betapa cepatnya FIFA bergerak ketika mengambil keputusan yang menyakitkan.

Kenangan Pahit 2023: Mimpi yang Dirampas di Ujung Jalan

Maret 2023. Indonesia sudah bersiap selama hampir empat tahun penuh. Enam stadion telah direnovasi dan disiapkan, maskot resmi turnamen sudah diluncurkan ke publik, bahkan perayaan hitung mundur 100 hari sudah berlangsung meriah di Gelora Bung Karno. Piala Dunia U-20 2023 seharusnya menjadi momen bersejarah, sebab untuk pertama kalinya Indonesia mendapat kehormatan menjadi tuan rumah turnamen FIFA sekelas itu.

Namun kemudian segala sesuatunya bergerak ke arah yang tidak diinginkan siapa pun. Begitu Israel dinyatakan lolos ke putaran final, gelombang penolakan mengalir deras dari berbagai penjuru negeri. Gubernur Bali I Wayan Koster mengirim surat resmi berisi penolakan agar Israel tidak bermain di wilayahnya. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengambil sikap yang tak jauh berbeda. Ormas, partai politik, dan berbagai elemen masyarakat pun turut angkat suara. Secara politis, sikap itu sebetulnya bisa dipahami karena Indonesia memang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, dan solidaritas terhadap Palestina sudah berakar sangat dalam di kesadaran publik kita.

FIFA bergerak dengan sangat cepat. Drawing yang sedianya digelar di Bali pada 31 Maret 2023 dibatalkan begitu saja. Kemudian tepat 52 hari sebelum turnamen dimulai, tepatnya pada 29 Maret 2023, FIFA secara resmi mencabut status Indonesia sebagai tuan rumah. Erick Thohir terbang jauh ke Doha membawa surat langsung dari Presiden Jokowi, berharap ada ruang kompromi yang bisa dinegosiasikan. Hasilnya nihil. FIFA tidak saja mencabut hak tuan rumah, tetapi juga menjatuhkan sanksi finansial kepada PSSI sekaligus menghapus hak Timnas U-20 untuk ikut berlaga dalam turnamen itu.

Empat tahun kerja keras lenyap dalam sekejap. Hanya karena menolak kehadiran sebuah tim, bukan karena menyerang siapa pun.

Yang penting untuk selalu diingat dari peristiwa itu adalah: Indonesia tidak berperang. Tidak menyerang siapa pun. Tidak menginvasi negara mana pun. Indonesia hanya menolak kehadiran salah satu peserta. Itu saja sudah lebih dari cukup bagi FIFA untuk bertindak tegas dan tanpa kompromi.

Rusia, Sanksi, dan Preseden yang Dibangun FIFA

Setahun sebelum drama yang menimpa Indonesia, FIFA sudah membangun preseden yang cukup tegas soal konflik bersenjata. Ketika Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022, FIFA bersama UEFA bergerak tanpa ragu. Sanksi resmi dijatuhkan pada 28 Februari 2022, hanya empat hari setelah invasi dimulai. Seluruh tim nasional Rusia dari berbagai level usia dan jenis kelamin dilarang tampil di semua kompetisi resmi FIFA maupun UEFA. Klub-klub sepak bola Rusia pun kena dampaknya karena mereka didepak dari turnamen antarklub Eropa.

Kronologi Sanksi FIFA pada Tiga Kasus Berbeda
  • Februari 2022 Rusia menginvasi Ukraina. FIFA dan UEFA menjatuhkan sanksi empat hari kemudian. Rusia dilarang tampil di seluruh kompetisi internasional.
  • Maret 2023 Indonesia menolak kehadiran Israel di Piala Dunia U-20. FIFA mencabut status tuan rumah, menjatuhkan sanksi finansial ke PSSI, dan menghapus hak Timnas U-20.
  • Februari 2026 AS dan Israel melancarkan serangan militer ke Iran. Piala Dunia 2026 tetap berlanjut di AS. FIFA tidak mengeluarkan pernyataan apa pun.

Akibatnya, Rusia absen total dari Piala Dunia 2022 di Qatar, Euro 2024 di Jerman, dan sudah dipastikan tidak akan tampil pula di Piala Dunia 2026. Meskipun Presiden FIFA Gianni Infantino belakangan mulai bersuara ingin mempertimbangkan pencabutan sanksi itu dengan alasan bahwa larangan tersebut hanya melahirkan frustrasi, sanksi itu sendiri sampai hari ini masih berlaku.

Pesannya saat itu terasa sangat jelas: jika sebuah negara menginvasi negara lain, FIFA tidak akan tinggal diam. Sepak bola bukan ruang steril yang bebas dari konsekuensi geopolitik.

Lalu pertanyaannya menjadi sangat sederhana: mengapa prinsip yang sama tidak berlaku ketika Amerika Serikat, salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, melancarkan serangan militer terhadap Iran?

Trump, Iran, dan Drama yang Terus Bergulir

28 Februari 2026. Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan militer besar-besaran ke berbagai fasilitas militer dan nuklir milik Iran. Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, dilaporkan tewas. Iran kemudian membalas dengan menyasar pangkalan-pangkalan AS dan infrastruktur energi di kawasan Teluk. Timur Tengah kembali membara dalam api konflik terbuka.

Di tengah semua kekacauan itu, Piala Dunia 2026 yang dijadwalkan dimulai pada 12 Juni 2026 di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada tinggal hitungan bulan lagi. Dan Iran sudah lolos kualifikasi. Tim mereka seharusnya bertanding di Los Angeles dan Seattle.

Yang kemudian terjadi adalah serangkaian pernyataan yang membingungkan, bahkan terasa absurd jika dilihat dari sudut pandang penggemar sepak bola biasa. Presiden Infantino sempat menyebut bahwa Trump telah menegaskan Iran tentu saja disambut untuk berkompetisi di Amerika Serikat. Namun kurang dari 24 jam setelah pernyataan itu, Trump mengirim pesan yang berbeda seratus delapan puluh derajat melalui Truth Social-nya. Ia menulis bahwa tim sepak bola Iran memang dipersilakan hadir, tapi ia sendiri tidak percaya kehadiran mereka itu tepat, demi keselamatan jiwa mereka sendiri.

Kontradiksi dalam satu hari penuh. Pernyataan yang terkesan ramah di pagi hari berganti menjadi sesuatu yang terdengar seperti ancaman terselubung di malam harinya.

Tim nasional Iran tidak tinggal diam merespons situasi itu. Melalui akun Instagram resmi mereka, para pemain menegaskan bahwa tidak ada satu pun individu maupun negara yang berhak mengusir mereka dari panggung Piala Dunia. Mereka bahkan balik menyindir dengan menyatakan bahwa jika ada pihak yang seharusnya dikeluarkan dari turnamen ini, itu justru adalah negara yang berposisi sebagai tuan rumah namun nyatanya tidak sanggup menjamin keselamatan para peserta.

Di Mana FIFA di Tengah Semua Ini?

Inilah inti dari ironi yang paling sulit diabaikan.

Kepada Indonesia yang hanya menolak kehadiran Israel, tanpa senjata, tanpa korban jiwa, tanpa invasi apa pun, FIFA langsung bertindak cepat dan tegas. Status tuan rumah dicopot, sanksi finansial dijatuhkan, hak bermain timnas dihapus. Semuanya selesai dalam waktu kurang dari dua minggu.

Kepada Rusia yang melancarkan invasi nyata ke Ukraina, dengan perang terbuka, korban jiwa berjatuhan, dan kota-kota yang hancur, FIFA pun bertindak. Sanksinya bahkan cukup keras dan masih berlaku sampai sekarang.

Namun kepada Amerika Serikat yang menyerang Iran secara militer, FIFA diam tanpa suara. Infantino justru bertolak ke Gedung Putih, duduk bersama Trump, dan kembali membawa senyum lebar.

Perlu diingat juga bahwa dalam acara undian resmi Piala Dunia 2026 pada Desember 2025 lalu, Infantino secara khusus memberikan penghargaan bertajuk "FIFA Peace Prize" kepada Trump. Penghargaan perdamaian. Kepada pemimpin negara yang kurang dari dua bulan kemudian memimpin serangan militer ke Iran.

Saya benar-benar tidak tahu harus merespons dengan tawa atau tarikan napas panjang.

Mengapa Standarnya Bisa Berbeda Sebegitu Jauh?

Ada satu penjelasan yang kerap muncul dalam diskusi-diskusi semacam ini. Meski tidak nyaman untuk diakui, ada logika di baliknya: FIFA pada akhirnya bergerak mengikuti arus kekuatan global yang sedang dominan. Sanksi terhadap Rusia bisa terwujud karena lahir dari konsensus yang sangat luas. Uni Eropa memberikan tekanan besar, negara-negara anggota UEFA menolak bermain melawan Rusia, dan PBB sendiri secara resmi mengecam tindakan invasi tersebut. Ada tekanan multilateral yang masif dan tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, aksi Amerika Serikat terhadap Iran, meski dipandang kontroversial oleh banyak pihak di seluruh dunia, tidak menghasilkan konsensus serupa di forum internasional. Amerika Serikat adalah kekuatan global dengan pengaruh diplomatik, ekonomi, dan militer yang melampaui siapa pun. Dan yang paling penting dari segalanya: Piala Dunia 2026 sudah telanjur ditetapkan untuk digelar di sana. Menarik status tuan rumah dari AS berarti meruntuhkan seluruh bangunan turnamen yang sudah dipersiapkan bertahun-tahun oleh ribuan orang.

Jadi pertanyaannya menjadi sederhana namun berat: apakah FIFA sesungguhnya memiliki prinsip yang konsisten? Atau selama ini FIFA hanya berani menghukum yang lemah sembari memilih diam saat berhadapan dengan yang kuat?

Bagi saya, jawabannya sudah cukup terbaca dari pola yang berulang. Dan apabila memang begitu kenyataannya, FIFA bukan lagi sekadar lembaga olahraga biasa. Ia adalah institusi yang, sadar maupun tidak, turut meneguhkan hegemoni kekuatan global melalui panggung sepak bola yang seharusnya netral.

Refleksi untuk Indonesia

Saya tidak hendak membenarkan keputusan yang diambil sejumlah pihak di Indonesia pada 2023 silam. Sebagai pecinta sepak bola, saya ikut berduka menyaksikan mimpi besar itu hancur berantakan karena kalkulasi politik yang terburu-buru dan kurang matang. Shin Tae-yong pernah berkata bahwa ia merasa sangat sakit hati dan kelelahan luar biasa. Bayangkan betapa lelahnya tiga setengah tahun kerja keras berakhir tanpa satu pun peluit pertandingan sempat berbunyi.

Tapi saya juga tidak bisa berpura-pura seolah tidak ada ketidakadilan yang terang-terangan terjadi di depan mata. Indonesia dihukum karena dinamika politik dalam negerinya sendiri. Rusia dihukum karena menginvasi negara tetangganya. Lalu Amerika Serikat melancarkan serangan ke Iran dan tidak mendapat hukuman apa pun.

Tiga kasus dengan bobot tindakan yang sangat berbeda. Namun hanya dua yang benar-benar menanggung konsekuensi dari FIFA. Dan keduanya bukan negara adidaya.

Barangkali pelajaran terpenting yang bisa dipetik Indonesia dari semua ini adalah kenyataan bahwa dunia sepak bola internasional tidak beroperasi di atas nilai-nilai moral yang merata dan konsisten. Ada aturan yang berlaku ketat bagi yang kecil dan lemah, serta ada keleluasaan yang dinikmati oleh yang besar dan berkuasa. Maka Indonesia perlu terus memperkuat posisinya secara diplomatik, secara prestasi olahraga, dan secara kapasitas kelembagaan, agar tidak selalu berada di posisi paling rentan dalam permainan yang sejak awal memang tidak pernah benar-benar setara untuk semua.

Bola Seharusnya Bukan Milik Si Kuat Saja

Piala Dunia menyimpan kekuatan yang luar biasa. Ia mampu mempertemukan bangsa-bangsa yang mungkin tidak pernah duduk di meja yang sama dalam forum diplomatik mana pun. Ia bisa mengubah seorang anak kecil dari kampung yang jauh menjadi nama yang dikenal seluruh dunia. Ia adalah bahasa universal yang dipahami oleh delapan miliar manusia di penjuru bumi.

Namun semua potensi mulia itu akan perlahan tergerus apabila lembaga yang mengelolanya beroperasi dengan logika tebang pilih. Ketika FIFA begitu cepat menghukum yang lemah namun begitu lambat dan senyap menghadapi yang kuat, kepercayaan publik terhadap institusi tersebut akan tergerus sedikit demi sedikit hingga tidak tersisa.

Iran sampai hari ini belum mengumumkan keputusan resmi apakah mereka akan tetap hadir di Piala Dunia 2026 atau tidak. Drama ini belum benar-benar berakhir. Namun terlepas dari apa pun keputusan akhir yang diambil Iran, satu hal sudah sangat jelas terbaca sejak lama: FIFA tidak pernah benar-benar memiliki standar yang sama untuk semua.

Dan kita, bangsa Indonesia yang pernah secara langsung merasakan betapa pedihnya ketika mimpi besar direnggut di momen yang paling dekat dengan kenyataan, mungkin lebih dari siapa pun bisa memahami apa artinya ketika kepentingan politik merampas bola dari kaki para pemain yang hanya ingin bertanding.

✦   ✦   ✦

Bola seharusnya milik semua orang. Bukan hanya milik mereka yang kebetulan paling berkuasa.

MD
Massaputro Delly TP
Blogger, penulis, dan pelancong yang berbasis di Serang, Banten. Aktif menulis tentang perjalanan, olahraga, dan isu-isu yang bersinggungan antara budaya, politik, dan kehidupan sehari-hari.
Travel Sport Tourism Banten Opini