Menjejakkan Kaki di Bumi Borneo: Perjalanan Dinas dan Kuliner di Kota Balikpapan
Kisah perjalanan pertama ke Pulau Kalimantan dalam rangka sosialisasi pengadaan internasional LKPP serta menikmati kelezatan kuliner khas Balikpapan.
Mimpi Lama yang Terwujud: Menginjakkan Kaki di Pulau Kalimantan
Akhirnya, saya berangkat juga dan menginjakkan kaki di bumi Borneo. Sepanjang karier saya dalam dunia birokrasi pemerintahan, sudah tak terhitung berapa kali saya melakukan perjalanan ke luar kota dalam rangka menunaikan tugas kedinasan. Berbagai agenda penting mulai dari kunjungan kerja peninjauan lapangan hingga memenuhi undangan resmi dalam suatu acara kenegaraan telah menjadi bagian dari rutinitas tahunan. Namun, ada satu catatan unik yang senantiasa terlewat: hingga usia karier yang telah melewati dua dekade bekerja, saya belum pernah sekalipun berkunjung ke pulau terbesar di Indonesia, Pulau Kalimantan. Entah karena kesibukan atau belum ada takdir penugasan ke sana, pulau eksotis ini seolah menjadi destinasi yang selalu tertunda.
Hingga pada suatu waktu, sebuah kesempatan emas datang menghampiri. Adanya kegiatan resmi yang diselenggarakan oleh Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), melalui Direktorat Pengembangan Iklim Usaha Dan Kerjasama Internasional di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, terasa begitu menggoda dan sayang untuk dilewatkan begitu saja. Momentum ini bukan sekadar sarana menunaikan kewajiban profesional, melainkan sebuah peluang berharga untuk menuntaskan rasa penasaran terhadap tanah Borneo.
"Perjalanan kedinasan terbaik adalah ketika kita mampu merajut produktivitas kerja dengan pengalaman batin menjelajahi kekayaan budaya dan keindahan nusantara."
— Refleksi Perjalanan DinasSelain tentunya mendulang ilmu pengetahuan baru serta memperluas jejaring profesional melalui keikutsertaan dalam forum nasional tersebut, perjalanan ini juga memberikan kesempatan bagi saya untuk sedikit menikmati suasana kota walau dengan alokasi waktu yang sangat singkat. Paling tidak, di dalam biografi perjalanan hidup saya kini terukir sebuah kenangan manis pernah berkunjung dan mendarat di Pulau Kalimantan.
Sosialisasi Tender Internasional dan Peraturan PBJP PHLN di Balikpapan
Kegiatan kedinasan yang mempertemukan langkah saya dengan Kota Balikpapan bertajuk Sosialisasi Peraturan LKPP Nomor 10 Tahun 2018 tentang Pedoman Pelaksanaan Tender/Seleksi Internasional dan Sosialisasi Peraturan PBJP PHLN (Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang dibiayai dari Pinjaman/Hibah Luar Negeri). Acara strategis ini diselenggarakan secara khidmat pada tanggal 27 Februari 2020 bertempat di Le Grandeur Hotel Balikpapan.
Agenda sosialisasi ini memegang peranan krusial dalam menyamakan persepsi para pelaku pengadaan terhadap dinamika aturan pengadaan berskala global serta pengelolaan dana hibah luar negeri yang menuntut akuntabilitas tinggi. Sebagai seorang birokrat yang berkecimpung di bidang pengadaan, menyerap langsung substansi kebijakan dari narasumber pusat memberikan pencerahan yang amat berharga untuk diterapkan di instansi asal.
Di balik padatnya agenda formal tersebut, dinamika waktu kunjungan terasa begitu ketat. Tidak banyak waktu luang yang tersedia bagi saya untuk menikmati pesona pariwisata Kota Balikpapan. Penerbangan malam hari yang langsung dilanjutkan dengan check-in di hotel sehari sebelum acara pembukaan membuat ruang gerak menjadi sangat terbatas. Pada malam pertama kedatangan, praktis tidak ada kesempatan untuk bepergian jauh mengeksplorasi kota. Sebagai obat penat perjalanan malam itu, saya hanya sempat menikmati seporsi hangat mie ayam sederhana di trotoar jalan dekat hotel tempat saya menginap. Keesokan harinya, konsentrasi penuh tercurah seharian penuh dari pagi hingga sore hari untuk mengikuti seluruh rangkaian persidangan dan materi sosialisasi.
Menikmati Kelezatan Kuliner Seafood Legendaris Kepiting Torani
Begitu sesi sore hari di hari pelaksanaan acara selesai, waktu senggang yang singkat ini saya manfaatkan sebaik mungkin untuk mencari hidangan kuliner khas Kota Balikpapan. Berbekal rekomendasi serta ulasan dengan rating tertinggi di mesin pencari Google, pilihan jatuh pada Rumah Makan Torani, sebuah destinasi kuliner tersohor yang menyajikan hidangan ala seafood segar dan berbagai masakan khas Balikpapan lainnya.
Setibanya di rumah makan tersebut, suasana pengunjung yang ramai langsung terasa menghangatkan suasana. Setelah melihat-lihat jejeran bahan makanan laut yang dipajang, pengunjung memang diberikan kebebasan untuk memilih sendiri ikan segar yang diinginkan. Namun, setelah bertanya kepada pramusaji mengenai menu favorit andalan rumah makan ini, saya ditawari menu spesial berupa kepiting torani—yakni olahan kepiting pilihan yang dimasak dengan siraman aneka bumbu rempah khas racikan dapur Torani.
Satu porsi hidangan ini ternyata berisi tiga ekor kepiting berukuran cukup besar, porsi yang tergolong masif untuk dinikmati seorang diri. Kebetulan sekali, pada hari kunjungan saya tersebut, menu kepiting istimewa ini sedang menawarkan promo potongan harga hingga 50 persen, sebuah penawaran menggiurkan yang tentu saja sayang untuk dilewatkan.
Sebagai informasi bagi para pelancong, pusat Rumah Makan Torani yang paling representatif terletak di kawasan Komplek Lembaga Pemasyarakatan, Jalan Jenderal Sudirman Nomor 73, Kota Balikpapan. Meskipun kini telah memiliki beberapa cabang di berbagai sudut kota, lokasi di Jl. Jenderal Sudirman inilah yang menjadi pusatnya yang legendaris.
Di dalam sajian foto kenangan kuliner tersebut, tampak tersaji satu porsi menggugah selera dengan tata hidang yang rapi. Sengaja porsi penyajian diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat terlalu penuh, sehingga kenikmatan menyantapnya terasa lebih santai. Makan malam pun terasa begitu lahap, semakin sempurna tatkala dipadukan dengan sepiring cah kangkung beraroma terasi yang gurih menggoda lidah.
Memburu Amplang Jenebora dan Bolu Gulung Keju
Nyaris saja terlupa, sebelum meluncur ke Rumah Makan Torani, saya menyempatkan diri singgah sejenak untuk memborong oleh-oleh khas Balikpapan. Pusat oleh-oleh Gulung Jenebora menjadi destinasi pilihan karena lokasinya yang relatif dekat dari posisi saya saat itu. Berkat kemudahan teknologi transportasi daring, perjalanan menuju pusat oleh-oleh tersebut dapat ditempuh dengan cepat dan efisien.
Pilihan makanan buah tangan yang ditawarkan di sana cukup beragam ragamnya. Perhatian saya langsung tertuju pada Amplang, camilan tradisional berupa kerupuk ikan khas Kalimantan yang sangat populer, serta aneka ragam bolu gulung lembut. Setelah menimbang-nimbang berbagai varian rasa, pilihan akhirnya jatuh pada Amplang dengan berbagai variasi rasa favorit seperti rasa udang, rasa kepiting, hingga rasa ikan tenggiri murni, yang dibanderol dengan kisaran harga yang sangat terjangkau antara Rp32.000 hingga Rp35.000 per kemasan.
Tidak hanya amplang kerupuk ikan, saya juga menjatuhkan pilihan pada sekotak bolu gulung istimewa dengan varian rasa Double Cheese yang lezat seharga Rp65.000. Oleh-oleh ini dipastikan akan menjadi hantaran manis setibanya kembali di rumah untuk dinikmati bersama keluarga tercinta.
Yah, begitu saja cerita singkat dari catatan perjalanan dinas kilat saya di Kota Balikpapan. Kehangatan kota minyak ini, kedisiplinan dalam forum sosialisasi LKPP, serta kelezatan kuliner seafood-nya meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Keesokan harinya, tepat seusai menikmati sarapan pagi di hotel, saya sudah harus berkemas meninggalkan kamar penginapan dan langsung meluncur menuju bandara untuk kepulangan kembali ke rutinitas harian.
Kesan Mendalam di Tanah Borneo
Kunjungan perdana ke Pulau Kalimantan ini membuktikan bahwa tugas kedinasan selalu menyimpan ruang-ruang estetika dan pengalaman kultural yang memperkaya batin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar